30
Jun
09

Memanusiakan Anak Autistik

INILAH.COM, Jakarta – Tidak ada orangtua yang ingin anaknya lahir dalam keadaan cacat atau menderita kelainan. Tapi, bila itu terjadi, apa yang harus dilakukan? Penerimaan dan penanganan yang tepat dapat meminimalisasi dampak negatifnya. Sikap yang sama berlaku bagi anak autis.

Penanganan anak autis memang cukup berat, karena membutuhkan strategi yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Selain tidak mampu bersosialisasi, penderita autis tidak dapat mengendalikan emosinya. Ia hanya tertarik kepada aktivitas mental dirinya sendiri.

Kelainan ini juga menyebabkan perkembangan anak penyandang autis tertinggal jauh dibanding anak normal seusianya. Bahkan tidak mustahil anak autis akan menjadi abnormal selamanya, bila tidak mendapat penanganan, pendidikan, dan perlakuan yang serius.

Ketua Yayasan Autisma Indonesia Melly Budhiman mengatakan, selama ini pemerintah belum memberi perhatian kepada anak-anak yang terkena autis. Karena itu, para orangtua harus berjuang sendiri mengembangkan anaknya.

Sayangnya, terapi yang harus dijalani anak-anak autis ini harus dijalankan dengan intensif. Biayanya pun mahal, sehingga sering tidak terjangkau oleh masyarakat bawah. “Tidak jarang para orangtua habis-habisan menjual hartanya demi kesembuhan anaknya,” ujarnya.

Ketidakpedulian pemerintah terlihat dari belum jelasnya jumlah penyandang autis di Indonesia. Apalagi, jumlah mereka belum tertangani, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Lalu bagaimana mau menangani, bila data penderitanya pun masih belum diketahui?

Penelitian menunjukkan jumlah penderita autisme meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1987, ratio penderita autisme 1:5.000. Ini berarti, di antara 5.000 anak, ada satu anak autistik.

Angka ini meningkat tajam, menjadi 1:500 pada 1997, kemudian jadi 1:150 pada 2000. Para ahli memperkirakan pada 2010 mendatang penderita autis akan mencapai 60% dari keseluruhan populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autis terdapat pada anak laki-laki.

Bila dilihat per negara, di Amerika autisme dialami dengan perbandingan 1:150 anak. Angka di Inggris juga menyentak, 1: 100 anak. Di negara-negara Asia, angka kejadian autisme meningkat pesat. Begitu juga di Afrika. Melihat itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2 April sebagai World Autism Day.

Autis berasal dari kata auto yang berarti ‘berdiri sendiri’. Istilah autis pertama kali diperkenalkan Leo Kramer pada 1943. Ketika itu ia mendapati gejala aneh pada seorang anak yang terlihat acuh terhadap lingkungan dan cenderung menyendiri. Seakan ia hidup dalam dunia yang berbeda. Kramer kemudian mempelajarinya. Itu sebabnya, autis juga dikenal dengan Syndrom Kramer.

Ada tiga karakter yang menunjukkan seseorang menderita autis. Pertama, social interaction, yaitu kesulitan dalam melakukan hubungan sosial.

Kedua, social communication, yaitu kesulitan dengan kemampuan komuniskasi secara verbal dan nonverbal. Sebagai contoh, sang anak tidak mengetahui arti gerak isyarat, ekspresi wajah, ataupun penekanan suara.

Karakter yang terakhir adalah imagination, yaitu kesulitan untuk mengembangkan permainan dan imajinasinya.

Julianita Gunawan, seorang peneliti autis, mengatakan ciri-ciri gejala autisme nampak dari gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku, emosi, dan sensoris. Secara umum, anak autis dikatakan sembuh, bila mampu hidup mandiri, berperilaku normal, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan lancar, serta memiliki pengetahuan akademis yang sesuai anak seusianya.

Gejala pada anak autis, biasanya sudah tampak sebelum anak berumur tiga tahun. Cirinya, tidak ada kontak mata dan tidak menunjukkan tanggapan terhadap lingkungan.

Pada sebagian anak, gejalanya dapat diketahui sejak anak lahir, disebut dengan Autistik Infantil. Ibu yang memperhatikan perkembangan anaknya, dapat mengetahui perbedaan si anak saat berusia satu tahun dari tatapan matanya. Sedangkan, sebelum usia tiga tahun, gejalanya dapat dilihat dari kurangnya interaksi sosial, cara berbicara, cara main yang monoton.

Penanganan kelainan ini diakui banyak pihak sangatlah sulit. Harus dibentuk penanganan menyeluruh yang terdiri atas orangtua, guru, terapis, dan keluarga. Semua ini harus diarahkan untuk membangun kemampuan anak bersosialisasi dan berbicara.

Penanganan oleh institusi profesional akan sangat membantu. Selain demi kemajuan penderita, konseling institusi ini akan dibutuhkan pihak keluarga untuk mendapatkan informasi, sekaligus menghilangkan perasaan bersalah atau merasa masalah ini adalah aib yang harus ditutupi.

Melalui Hari Autisme Internasional, diharapkan pemerintah dapat berperan serta dalam mensosialisasikan pengetahuan dan mempermudah akses informasi tentang autis kepada masayarakat.

Karena dengan intervensi dini yang tepat dan optimal, seorang anak penyandang autisme dapat pulih dan hidup normal di tengah masyarakat.


0 Responses to “Memanusiakan Anak Autistik”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Calendar

June 2009
M T W T F S S
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Catagories

Archives

Blog Stats

  • 9,564 hits

%d bloggers like this: